Selasa, 24 November 2015

Happy Wedding my niece





Saya Raja Gabriel Jonggi Silaban menyambut engkau, Meri Kristiani sebagai istriku dan berjanji : Bahwa saya akan tetap setia kepadamu, serta mengasihimu dalam suka dan duka, bahwa saya akan memeliharamu dengan setia, sebagaimana wajib diperbuat oleh seorang suami yang beriman kepada Yesus Kristus.

Janji suci pernikahan mempelai pria kepada mempelai perempuan dengan terbata-bata. Ada luapan emosi bahagia dan kelegaan tertuang lewat nada suaranya. Dan, ada air mata memaksa keluar dari kedua kelopak matanya. Dan itu bukan gimmick.

True Love
True Love - You both are so sweet :)
Tidak biasanya dan belum pernah saya menyaksikan pemberkatan nikah yang membuat saya sangat tersentuh. Dari nada suara, semua yang hadir bisa merasakan janji suci yang keluar dari dasar hati sang mempelai pria tulus dan sungguh-sungguh. Bagaimana tidak untuk mengucapkan kalimat sederhana diatas saja cukup membuat si mempelai bahkan semua yang hadir ikut meneteskan air mata. Ada janji setia yang diucapkan dari lubuk terdalamnya. Saya termasuk salah satu saksi dari sekian yang hadir mendengarkan janji suci Ogi kepada keponakan saya, Meri, yang menggetarkan hati setiap yang mendengar.

Selesai prosesi pemberkatan, pendeta bertanya pada mempelai pria, "Sekarang lihat Meri, apa dia cantik?" tanya pak pendeta pada Ogi, dengan kepala antara mengangguk-angguk dan menggeleng ia menjawab dengan suara masih bergetar, "Cantik... cantik sekali," jawabnya sambil menatap Meri di depannya.

Semua yang hadir tersenyum termasuk pak pendeta mendengar jawabannya. "Dulu saya juga cakep lho, candanya. Tapi kecantikan atau ketampanan itu tidak akan selamanya abadi, lama-lama ia akan pudar. Hanya cinta kasih yang akan abadi," tambah pendeta.

"Jonggi... sekarang Meri adalah istrimu, peluk dan ciumlah," kata pendeta lagi. Ogi tampak ragu untuk segera memeluk dan mencium Meri, istrinya sekarang. Ia masih berdiri dan menatap Meri dengan ragu-ragu. Dari kursi tempat saya duduk, saya bisa melihat Ogi berbicara dengan suara seperti berbisik pelan pada Meri meminta persetujuannya untuk ia boleh mencium Meri. Kalau enggak salah begini ia ngomong, "Cium ya... cium ya," katanya dengan kepala sedikit diangguk-angguk meminta persetujuan Meri.

Beberapa detik berlalu, Ogi masih berdiri mematung berhadapan dengan Meri tanpa melaksanakan seperti pendeta bilang. Tak lama, terdengar pendeta mengingatkannya untuk memeluk dan mencium istrinya.

Dan beberapa detik kemudia. Eng ing eng....

Ogi mendekati dan memeluk Meri, kemudian ia mencium kening Meri dalam. Tampaknya ciuman meski di kening cukup hot euy! Kerasa gitu di hati yang lihat, hehe... maksudnya ketulusan cinta Ogi pada Meri lho!

Semua yang hadir terharu. Tapi, pak pendeta ternyata kurang puas dengan apa yang Ogi lakukan. Maka ia berkata, "Jonggi, kamu yakin hanya seperti itu mencium istrimu?"
Ogi terdiam. Ada keragu-raguan dari bahasa tubuhnya.

Selang beberapa detik kemudian, pak pendeta bertanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Akhirnya Ogi menggangguk lemah, "Ya pak, cukup!" jawabnya dengan bahasa tubuh yang sebenarnya bertolak belakang dengan apa yang diucapkan.

"Mereka dipaksa," kata Michael putra dari Esther, keponakan saya.
"Mungkin mereka malu," sahut Caca, putri saya.

Kedua anak kecil, laki-laki dan perempuan ini menjadi komentator tak berbayar alias gratisan dari pernikahan ini.

Tak berapa lama pak pendeta berkata pada Meri, "Meri ini adalah suamimu, peluk dan ciumlah ia," katanya. Tanpa menunggu aba-aba berulang, Meri mendekat pada Ogi, kemudian ia memeluk dan ouw..ouw..ouww... ia mencium tepat di bibir suaminya, yang disambut langsung oleh Ogi dengan gegap gempita eh maksudnya dengan senang hati, tentunya.

Prok prok prook....!

Terdengar suara riuh tepuk tangan dan berisik dari semua yang hadir. Semuanya menyambut gembira. Jika Ogi begitu grogi dan takut untuk mencium Meri, berbeda dengan Meri, ia berani menyatakan rasa sayangnya pada suaminya dengan tidak malu-malu. Psstt... off the record "Ciumanku malu-maluin 'gak sih?," tanya Meri esok harinya, ketika kami semua berkumpul membicarakan pemberkatan nikah yang amazing itu. #Enggak malu-maluin Mer, itu sih namanya penuh inisiatif  hehe..!

Kejadian ini membuat semua tertawa bahagia, termasuk pak pendeta, ia bilang, "Ternyata orang timur lebih berani," candanya sambil tersenyum. Maksud pak pendeta Meri yang kerunan gado-gado ini, ada Ambon, Sunda, Cina mengalir dalam darahnya, dianggap lebih berani dari Ogi yang kerununan batak.

Menurut pak pendeta, orang barat (orang bule) lebih berani menyatakan cintanya kepada pasangannya dari pada kita orang timur, mereka berani mencium bibir istrinya di depan banyak orang dalam acara pernikahan tanpa malu-malu.

Ogi memang keturunan darah batak, tetapi sifat lembutnya menjadikan ia seperti bukan kerunanan suku batak, ini cukup membuat pak pendeta amaze terhadapnya. Dalam wejangannya, pak pendeta bilang, "Saya belum pernah bertemu orang batak yang sehalus dia, Meri kamu harus bersyukur mendapat suami seperti Jonggi, seorang bersuku batak. Sepanjang pengalaman saya, pernikahan beda suku itu biasanya toleransinya besar. Contohnya saya, istri saya beda suku dengan saya dan kami sangat menghargai perbedaan adat kebiasaan masing-masing. Tapi, bukan berarti satu suku tidak baik ya," katanya lagi.

Rasanya melihat pemberkatan perkawinan mereka ini sungguh unik dan berbeda. Ada tawa dan haru menyaksikannya. Selesai pemberkatan acara dilanjutkan hidangan makan di GSG belakang gereja. Sebelum hidangan makan ini ada acara lempar bunga dan lempar boneka. Oya, buku tamu mereka juga unik, di sana disediakan beberapa bak tinta warna-warni untuk jempol para undangan, sidik jari undangan ini di cap-kan di ranting-ranting pohon. So creative you are, my niece!

Anyway, selamat atas pernikahan kalian. Semoga berbahagia. Biar Tuhan memelihara hidup perkawinan kalian. Amin

Matius 19:6, Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia."


Foto-foto pre wedding mereka, yang membuat auntie iri. Sumpah! (Maaf fotonya blur semua, hasil print out jelek, tintanya blobor hehe...)


unforgettable moment




























*De, nanti fotonya auntie ganti ya yang gak blur! (kirim soft copy-nya ya)


Salam,
Auntie 'eMDi '  Dazzling


Jumat, 20 November 2015

Zakat Maal


"Duh... semalem aku nggak bisa tidur!" kata rekan kerja perempuan sekaligus atasan saya tadi pagi di kantor dengan wajah tersenyum-senyum.
"Kenapa?" tanya saya.
"Gara-gara tadi malem aku diceramahin sama bu Hajjah Shinta sampai jam sebelas malam," katanya lagi.

Dan, beginilah ceritanya.

H. Shinta    : "Bu Nur bayar zakat?" 
B. Nur        : "Bayar bu, setiap Idul Fitri saya keluarkan zakat."
H. Shinta   : "Maksud saya bukan itu, itu namanya zakat fitrah! Maksud saya emmm... mbak Nur bayar zakat harta?"

Ia menggeleng. Entah itu artinya gelengan tidak bayar zakat atau gelengan tak mengerti.

 B. Nur        : "Tidak bu."
 H. Shinta  : "Membayar zakat maal itu hukumnya sama dengan shalat lima waktu yaitu wajib hukumnya."

Deg! Hatinya bergetar.

H. Shinta : "Zakat fitrah itu berbeda dengan zakat maal mbak. Kita harus mengeluarkan zakat atas harta yang kita miliki atau gaji yang kita terima. Kalau harta yang kita miliki tidak kita zakatkan, kelak di akherat nanti si harta yang tidak kita zakatkan itu akan menjelma menjadi mahluk yang menakutkan dan ia akan mengejar-ngejar kita terus. Jika kita tanya, siapa kamu? Ia akan menjawab aku hartamu yang tidak kamu zakatkan. Bahkan jika kita tidak membayar zakat harta masuk neraka pun caranya dengan dilempar," jelasnya lagi.
B. Nur       : "Terus bagaimana dengan saya, bu?"
H. Shinta   : "Kalau mbak Nur berat membayar sekaligus, mbak Nur bayarnya bisa satu-satu dulu, misal bayar zakat maal rumah dulu," terang bu ustadzah.

Ia diam.

H. Shinta : "Oya, mbak Nur sudah daftar naik haji?"
B. Nur    : "Belum bu, sebenarnya saya ingin daftar naik haji tetapi suami saya tidak mau, susah diajaknya."
H. Shinta : "hukumnya wajib loh mbak, jika kita mempunyai dua rumah, salah satu rumah dijual untuk naik haji," terang bu ustadzah.


"Suamiku susah diajaknya. Waktu Umrah kemarin aja awalnya dia enggak mau tuh," keluhnya pada saya disela ia bercerita.

"Dan tadi malem aku ngebayangi mahluk yang diceritakan bu Shinta itu mengejar-ngejar aku, aku takut banget sampe nggak bisa tidur,"  sambungnya lagi padaku.
"Bu Shinta bilang begini, nanti mbak Nur lagi dikejar-kejar sama mahluk itu Raffi malah lagi asik bermain bola dan Icha lagi asik berbelanja, mbak Nur sendirian deh di sana. Ihh... aku takut banget deh ngebayanginnya. Terus ngebayangi kuburan yang sempit dan serem ihh!" ujarnya sambil bergidik.

Mendengar ceritanya membuat saya ingat diri sendiri. Jika di agama Islam ada yang namanya membayar zakat maal, maka di agama Kristen ada yang namanya Persepuluhan.

Menurut agama Islam ada hak orang lain yang menempel di harta kita, maka itu harus ada zakat maalnya sebesar 2,5%. 2,5% itu haknya orang lain.

Sedang Persepuluhan adalah justru milik Tuhan. Persepuluhan adalah berkat Tuhan yang harus dikembalikan kepada Tuhan sebesar 10%.

Dan, ssttt... saya malu, saya tidak rutin mempersembahkan persepuluhan ini. Jika saya merasa cukup banyak rejeki baru deh saya mempersembahkan persepuluhan, sedang jika merasa duit cekak saya tidak memberikan persepuluhan yang adalah milik Tuhan.

Sebuah ayat alkitab mengingatkan akan persepuluhan ini :

Maleakhi 3:10, Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman Tuhan semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan. 

Saya sedih mengapa saya tidak memprioritaskan persepuluhan ini. Padahal saya percaya dengan janji Tuhan di atas (Maleakhi 3:10) bahwa Tuhan akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat sampai berkelimpahan jika kita membawa persembahan persepuluhan kepadaNya.

Satu PR saya mulai hari ini adalah belajar mempersembahkan persepuluhan dengan sukacita. Saya percaya persepuluhan adalah hak Tuhan, dan sisa 90% milik kita akan Ia jaga buat kita, hingga kita tidak pernah berkekurangan melainkan akan berkelimpahan.

Hai auntie Lie, Ingat! Persepuluhan adalah milik Tuhan. Seperti ada tertulis :

Ulangan 26:12, Apabila dalam tahun yang ketiga, tahun persembahan persepuluhan, engkau sudah selesai mengambil segala persembahan persepuluhan dari hasil tanahmu, maka haruslah engkau memberikannya kepada orang Lewi, orang asing, anak yatim dan kepada janda.

Mengutip dari sebuah situs (maaf situsnya saya lupa) : Orang Lewi adalah suku yang Tuhan khususkan untuk melayani Tuhan, dalam masa sekarang ini adalah gereja. Jadi persepuluhan ini dapat kita berikan kepada gereja, biarlah gereja yang mengelola persembahan persepuluhan itu untuk segala keperluan pelayanan. Karena anak yatim dan janda juga sebenarnya berhak menerimanya, selayaknyalah gereja menyalurkan persepuluhan kepada mereka, orang yang membutuhkan.Tetapi agar kita tidak terlalu repot, memberikan sepersepuluhan kepada gereja adalah yang paling baik, biarlah gereja yang mengelolanya.


Dan biarlah kita mempersembahkannya dengan kerelaan hati.

2 Korintus 9:7, Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita



Salam,
Auntie 'eMDi '  Dazzling

Senin, 09 November 2015

Aku Takut Mati



"Kenapa ya, kok aku tambah takut menghadapi kematian?" seorang rekan kerja bertanya pada saya dengan wajah sendu tak berseri. Pertanyaan yang jawabannya pun bisa jadi akan sama hasilnya jika saya harus jawab saat itu juga.

Kata "mati" bagi kebanyakan orang memang menakutkan, termasuk saya tentunya. Banyak hal yang membuat manusia takut mati. Takut, karena merasa dosanya banyak dan belum diampuni oleh Tuhan. Atau menurut rekan saya tadi, ia takut mati karena merasa belum punya cukup bekal untuk menghadapi perjalanan kematian ini.

Dalam versi saya, ketakutan saya mungkin lebih banyak lagi. Kalau saya mati saya takut bagaimana dengan kehidupan anak saya yang masih kecil ini kelak. Kalau saya mati saya pun kurang yakin suami saya akan mampu membesarkan anak saya dengan baik - bukan tidak percaya pada suami tetapi saya yakin anak saya akan lebih baik di dalam pengasuhan saya, ibunya. Atau saya sendiri juga takut bahwa kematian itu menyakitkan. Kematian itu sebuah kekalahan, dan segudang ketakutan-ketakutan lain.

Menurut rekan saya ini, ketakutan akan kematian ini timbul justru disaat ia mulai belajar mendalami agama. Ia mulai belajar mengaji dengan mengundang seorang ustadzah ke rumahnya. Entah mengapa, menurutnya ia semakin takut akan kematian. Semakin ia mengenal agama, semakin takutlah ia akan kematian. Apalagi ketika ustadzahnya bilang jika kita mengaji dan bacaannya salah itu adalah dosa, tetapi jika niatnya belajar maka itu tidak apa-apa, yang penting niatnya belajar, begitu bu ustadzah menerangkan. 

"Aku takut bacaan ngajiku selama ini salah, setelah shalat biasanya aku sempetin mengaji, bagaimana kalau bacaanku salah ya?" katanya lagi.  
"Tapi kan kamu masih dalam tahap belajar, pastinya waktu kamu ngaji juga tujuannya belajar mengaji," jawabku.

Takut akan kematian mungkin tidaklah buruk jika ditindaklanjuti dengan hal positif. Misalnya saja sekarang ia jadi lebih getol beribadah. Shalat lima waktu tidak bolong-bolong, lebih rajin mengaji, rajin shalat dhuha dan perilakunya lebih lemah lembut. Ini adalah sesuatu yang lebih baik tentunya. Dan itu artinya naik kelas.

Dan, bagaimana dengan saya sendiri?

Seharusnya ketakutan ini membuat saya jauh lebih bertekun lagi di dalam iman. Saya yang seorang christiani ini masih jauh dari yang namanya bertekun dalam iman. Saya teringat ketika saya kecil dan remaja, ketekunan iman saya jauh lebih baik dari sekarang. Sedang sekarang?

Saya seperti domba yang lari dari kawanan dombanya. Mencari makanannya sendiri, berjalan bahkan berlari dari Sang Gembala. Saya seperti si anak domba yang penasaran ingin menjelajahi dunia lain di luar dari lapangan hijau yang sudah disediakan bahkan dipilihkan Sang Gembala bagi domba-domba peliharaannya. Saya terbuai dengan pengembaraan saya yang saya anggap hebat meski tanpa kawalan Sang Gembala. 

Tetapi, dalam pengembaraan itu ada rasa takut yang selalu menyelimuti diri. Saya takut jika diperjalanan ini saya menemukan jurang terjal kehidupan. Kemana saya bisa mencari perlindungan? Di mana saya bisa mendapatkan rasa aman?

Ketika saya menjauhi Sang Gembala ketakutan itu ada.

Tetapi ketika saya bersama Sang Gembala ada rasa aman dan damai. Saya tahu, ketika saya kesulitan melewati jurang terjal kehidupan ada tangan kokoh yang menopang dan menggendong saya melewati jurang terjal tersebut. 

Saya takut mati, dan juga takut hidup. 

Saya takut akan masa depan keluarga saya. Andai saya dan suami sudah tidak bekerja bagaimana dengan keluarga kecil saya ini? Terutama dengan anak gadis kecil kami. Apakah saya masih bisa menyekolahkannya dengan baik sampai ke jenjang terbaik? Dari mana saya bisa mendapat sumber penghasilan jika saya sudah tidak bekerja lagi, sedang anak saya masih memerlukan biaya sekolah 

Itu adalah ketakutan besar hidup saya!

Dalam ketakutan saya jadi lupa bahwa saya punya Tuhan. Tuhan yang selalu ada untuk saya. Ia Gembala yang baik. Tak akan saya kekurangan. 

Saya jadi teringat sebuah lagu rohani yang menyejukan hati saya...

Tuhan adalah Gembalaku
Takkan kekurangan aku
Ia membaringkan aku
Di padang yang berumput hijau

Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku
Ia menuntunku di jalan yang benar
Oleh kar'na namaNya
Sekalipun aku berjalan
Dalam lembah kekelaman

Aku tidak takut bahaya
Sebab Engkau besertaku
GadaMu dan tongkatMu
Itulah yang menghibur aku

Ia membimbingku ke air yang tenang
Ia menyegarkan jiwaku
Ia menuntunku di jalan yang benar
Oleh kar'na namaNya
Sekalipun aku berjalan
Dalam lembah kekelaman

Sebab aku akan diam dalam
Rumah Tuhan sepanjang masa 

Dan sebuah ayat yang menguatkan iman

"Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur."

Ya, itu adalah pengharapan bagi umat pilihannya. Ini sumber kekuatan dan penghiburan. Dalam segala hal, kita hanya perlu berdoa dan berpengharapan pada Sang Sumber hidup, Allah itu sendiri.

Meski nilai raport keimanan saya sungguh jelek bahkan merosot tajam, saya percaya Tuhan tak kan pernah meninggalkan saya. Saya tak perlu khawatir dan takut dalam hal apa pun juga, karena saya percaya pada janjinya bahwa ia tidak pernah meninggalkan umatnya.

Sekarang yang harus saya lakukan adalah memperbaiki nilai keimanan saya padaNya, dengan selalu takut akan Tuhan. Bukan takut mati, apalagi takut hidup. 

Sebab bagiku, hidup Christus mati untung. 


Salam,
Auntie 'eMDi '  Dazzling